Baru-baru ini saya bernostalgia dengan film-film lama. Pasti semua tahu The Lord Of The Ring, kan?—mari kita singkat LOTR—film yang dibuat berdasarkan buku karangan J.R.R Tolkien (masa ayah saya bilang “hah? Tulkiem?”—padahal beliau guru bahasa Inggris).
Menurut para pengamat sastra di negri barat sana buku inilah pelopor cerita-cerita mengenai berbagai jenis ras di bumi: elf, dwarf, hobbit, ent, man(manusia), penyihir, orc, goblin, uruk-hai dan sauron(jujur sampai sekarang saya nggak tahu Sauron tuh termasuk rasa pa. jadi penasaran pengen baca bukunya). Kenapa bisa begitu? Karena sampai sekarang tentu sudah banyak sekali buku yang mengisahkan tentang elf, dwarf, dan lain-lain itu, tetapi buku inilah yang paling tua di antara buku-buku yang lain itu. Terlebih lagi sang pengarang, Mr. Tolkien, sangat lengkap dan terperinci dalam menjelaskan tentang bahasa elf, seolah-olah itu bahasa beliau sendiri. Saya diberi tahu teman kakak saya yang sudah pernah membaca bukunya, dibelakang bukunya itu ada seperti kamus bahasa elf dan sangat lengkap. Maksudnya, tidak hanya translate dari kata-kata yang digunakan dalam bukunya, tetapi banyak dan ada penjelasannya. Sungguh semakin membuat penasaran.
Saya sebenarnya ingin minta maaf sama JK Rowling karena sekarang saya akan menomor dua kan beliau sang pengarang Harry Potter itu. Menurut saya Mr. Tolkien agak sedikit lebih keren dari pada JK Rowling. Imajinasinya akan sebuah dunia—Bumi Tengah—dan semua ras itu, kisahnya yang sangat menyentuh hati, dan penokohan setiap tokohnya yang memiliki kekhasan sendiri dan kepribadian yang khas pula yang tidak bisa dikesampingkan walau tokoh utama, Frodo—Elijah Wood, tetap menjadi sorotan utama. Film nya saja begitu keren, dalam sejarah film inilah yang paling “serakah” mengantongi piala Oscar, terutama masalah belakang panggung. Yang sudah pernah liat filmnya pasti mengerti, betapa detail dan rinci penggambaran setiap ras dan daerah tempat tinggalnya. Pakaian perang setiap bangsa pun dipikirkan matang-matang sepertinya, karena tidak semuanya sama. Penggambaran orc yang menakutkan dan menjijikan itu pun sangat mendetail, tidak sembarang memasang wajah seram yang sama—seperti film horror Indonesia—walau ada puluhan figuran, semuanya berwajah beda dalam memerankan Orc. Seolah bagian creative-nya tidak kehabisan ide, tentunya ide tersebut dan kerincian tersebut karena bukunya yang memang menerangkan dengan sangat jelas setiap bangsa. Bagaimana elf harus tampak anggun dan menawan dan selalu—seolah-olah—bercahaya. Pokoknya film ini keren buanget!!!!!
Hobbit, sebenarnya tidak begitu istimewa, apalagi dibandingkan dengan Elf. Ras ini di anggap ras rendahan. Namun, Hobbit adalah makhluk yang menyenangkan. Kerjaan mereka mirip orang-orang Indonesia, bertani, berpesta, bersenang-senang, bedanya Hobbit ini kaya nggak pernah susah gitu, seneng mulu, kalau Indonesia, seneng-senengnya yang kaya-kaya aja, miskin mah sengsara mulu kagak ada yang mikirin. Hobbit adalah makhluk kerdil berkuping lancip—kaya kuping Elf—tingginya mungkin hanya sampai seukuran perut orang dewasa. Rambutnya keriting, semuanya, tidak ada bangsa Hobbit yang tidak keriting—itu yang kulihat di film. Dan yang paling aku suka karena menurutku paling unik adalah rumah mereka. Lihatlah The Shire—desa tempat tinggal Frodo—dan kalian akan langsung jatuh cinta. Begitu hijau dan dipenuhi rumah-rumah berpintu bundar. Yup! Pintu rumah mereka bundar! Lingkaran dengan gagang pintunya di pusat lingkaran. Lucu banget kan!? Hehehe. Lorong pemisah antar ruangan di dalam rumah pun berupa setengah lingkaran. Oh iya, buat kalian yang sudah besar, hati-hati ya masuk rumah Hobbit, bisa-bisa nanti kepalanya terantuk atap rumah, atau rambutnya kesangkut lapu gantung. Hehehe. Hobbit yang paling saya suka dari Shire atau tepatnya dari cerita ini adalah Samwise Gamgee. Kalau kalian sudah tahu ceritanya, kalian pasti juga akan mengaguminya, lebih mengagumi perannya dibanding peran Frodo. Walaupun memang Frodo Baggins mengemban tugas yang jauh jauh jauh lebih berat daripada Sam.
Dwarf, sesama bangsa kerdil seperti Hobbit, tapi mungkin agak sedikit di atasnya. Dwarf berbadan lebih besar dari pada Hobbit, dan mereka semua berjanggut, bahkan wanita sekalipun—aku tidak bisa membayangkan diriku menjadi dwarf. Tidak mau!—ini berdasarkan pernyataan Gimli putra Gloin dalam cerita, tapi selama film saya tidak melihat dwarf wanita, jadi penasaran terus. Dwarf tidak berkuping lancip, karena mereka mengejek elf dengan sebutan “si kuping lancing”. Yah…sepertinya dwarf dan elf memang tidak begitu rukun. Dwarf adalah pekerja keras, mereka juga disebut pekerja tambang. Rumah mereka digua-gua, dekat tambang mereka. Satu-satunya penggambaran kerajaan dwarf di film adalah MORIA—tapi sudah hancur. Pada dwarf menggali sangat dalam. Tapi sungguh dibawah tanah itu seperti dibangun istana. Tetapi dwarf ini juga disebut-seebut agak pengecut, karena saat perang dunia bumi tengah pertama, dwarf tidak ikut berkoalisi dengan manusia dan elf untuk melawan Sauron. Mereka bersembunyi aman di bawah tanah di dalam gua. Namun, saat kegelapan kedua mengancam, akhirnya bangsa dwarf turut serta, Mr. Gimli inilah yang mewakilinya. Di akhir cerita dwarf dan elf malah jadi sahabat. Hampir lupa, senjata dwarf adalah kapak, Gimli paling membanggakan bangsanya dan kapaknya.
Elf, makhluk paling bijaksana, baik, dan abadi, satu-satunya yang abadi dari semua ras. Bila ada ras lain yang beruntung, bisa pulang ikut abadi, contohnya Bilbo Baggins—sebenernya saya ndak tahu dia ini ayah atau kakeknya Frodo—dia seorang petualang pada masa mudanya, berteman baik dengan banyak orang, termasuk para Elf, petualangannya tidak ada yang mengalahkan deh, kaya udah keliling dunia gitu. Petualangnya dia ceritakan dalam buku “There and Back Again, a tale of Hobbit” saya harap buku itu ada betulan karena saya ingin sekali membacanya! Bilbo mendapatkan kehormatan dari pada Elf untuk ikut berlayar bersama para Elf, intinya menjadi abadi atau seperti masuk surge gitu deh. Elf aslinya tidak hidup di darat. Jika masa Elf sudah lewat—seperti kata Lord Eldrond—mereka akan kembali ke laut, gitu deh intinya. Cirinya Elf, berkuping lancing, tubuhnya kaya orang normal, seukuran manusia dewasalah. Saat mereka berjalan seolah, bangsa lain yang bukan elf itu menciut, cara berjalan mereka sangat anggun—kaya slow motion gitu. Wajah mereka selalu seperti bercahaya—mungkin make up-nya blink-blink, hehe, canda—dan cara bicara mereka pun sangat anggun dan walau pun perlahan, yang mendengarnya bisa bergetar karena kagumnya. Elf juga bisa menyihir, terutama dengan menggunakan bahasa elf, tetapi hanya saat mereka berada di wilayah mereka. Contoh, saat Arwen—putri elf—dikejar oleh para Wraith—antek Sauron—saat menyelamatkan Frodo, dia menyihir sungai yang sudah berada di wilayah Elf menjadi bergelombang besar dan menenggelamkan kesembilan Wraith—tetapi mereka nggak mati karena mereka nggak bisa mati! Mereka juga ahli penyembuhan, tetapi saat itu kesaktian penyembuhan Arwen belum terlalu hebat. Gambaran tempat tinggal mereka adalah megah dan bersinar. Banyak relief gitu, saya tidak punya kata-kata yang tepat untuk mengatakannya. Oh iya, senjata utama mereka adalah panah, mereka semua ahli pemanah, pedang mereka juga beda, kaya tombak gitu. Elf yang sudah sakti bisa melihat masa depan, sebenarnya yang muda juga, tapi itu baru bakat, masih kudu di asah. Aku sempat heran, kenapa penggemar Super Junior namanya Elf? Gak trima ajah, jauh banget gitu sama Elf. Tapi gapapa deh, aku kan juga Elf-Suju hehehe. Tambahan lagi, tokoh Elf banyak yang mendominasi di film, tetapi yang paling sering kelihatan adalah Legolas yang diperankan Orlando Bloom—ada cewek yang teriak-teriak ndak pas baca ini?—yang ganteng itu (katanya). Orlando Bloom juga berperan di trilogi lagi (dadakan) The Pirates of Carribean.
Ras Penyihir, saya ndak tahu ini bener atau ndak. Sepertinya memang ada, karena Gandalf—Ian McKellen—terlihat manusia tetapi bukan elf dan dia bisa menyihir tanpa bahasa elf dan juga bisa mendapatkan penglihatan-penglihatan. Jadi menurut saya Gandalf masih sekaum sama Harry Potter (selanjutnya memang iyah, Ian McKellen memerankan Prof. Dumbledor dari HP 5, karena actor sebelumnya meninggal dunia). Cirri-ciri mereka sama deh kaya manusia. Ada tingkatan-tingkatan dalam penyihir di LOTR, Gandalf tadinya adalah The Grey (abu-abu) tingkatannya masih di bawah Saruman si Penyihir Putih yang tadinya baik kemudian menjadi anteknya Sauron juga (entah apa mungkin karena nama depan mereka sama-sama ‘S’ hehehe). Sehingga saat keduanya duel, Gandalf kalah. Namun kemudian Gandalf bertransformasi menjadi penyihir putih, setelah berhasil mengalahkan The Shadow—sejenis iblis. Dan semenjak itu wajahnya jadi agak bersinar kaya elf gitu, dan sekarang dia jelas labih sakti dari pada Saruman. Penyihir di LOTR menyihir dengan tongkat berjalan, bukan tongkat yang kecil kaya di HP, semua penyihir di LOTR—cuma ada dua ding—adalah orang tua, saya juag ndak ngerti kenapa haru s orang tua. Oiah, tanpa tongkatnya, penyihir tidak bisa menyihir, jadi kalau mau mereka kalah, gampang, colong aja tongkatnya.
Ras orc, goblin, dan uruk-hai. Serba gajelas. Muka gak jelas, ngomong nggak jelas, senjata nggak jelas(bentuknya aneh-aneh), tempat tinggal nggak jelas juga. Berdasarkan film, orc, goblin, dan uruk-hai bisa di dapat dari tanah. Karena saat Saruman mengumpulkan pasukannya, dia menggali sangat dalam (nggak tahu pake bor atau pake sihir), dan di dalam galian ini pun masih di gali lagi untuk mencari ‘kehidupan’. Orc terbenam di tanah dan mereka hidup, terlindungi dengan selaput lengket begitu. Menjijikan deh saat pertama kali mereka ditemukan di tanah. Makanan mereka daging, mereka benci roti, daging manusia kesukaan mereka—takut!!!. Uruk-hai, menurut Saruman, dulunya adalah Elf, tetapi mereka terkutuk lalu dipeluk kegelapan dan jadilah makhluk menyeramkan yang lebih kuat dari orc dan bisa berpatroli di siang hari ya itu tadi, Uruk-Hai. Nah, saya bingung, Gollum itu masuk apa ya? Dia juga termasuk makhluk nggak jelas, walau dulunya dia itu Hobbit, tetapi karena gila oleh cincin itu, bertransformasi jadi makhluk aneh yang kaya punya 2kepribadian.
Ent, ini kaya yang di Narnia, pohon yang hidup. Tetapi tidak semua pohon di LOTR hidup, hanya ent saja atau juga bisa disebut Treeberd, penggembala pohon. Ada bahasa ent juga loh yang laaammaaaa buangettt kalau mau ngomong pake bahasa ent. Udah gitu ent kalau lagi rapat goyang-goyang gitu kaya pohon kena angin, tapi jadi lucu. Ent aja ngomong pake bahasa manusia agak lelet. Gambaran ent ini juga kaya orang tua, pohon yang punya mata, telinga, hidung, mulut kaya manusia tetapi ada janggut-janggutnya gitu deh. Ent tadi nya engga ikut berperang karena merasa mereka tidak dirugikan jadi mereka diam saja. Padahal mereka salah. Untuk ada Pippin dan Mery, teman Frodo dan Sam, yang menyadarkan mereka, dan memperlihatkan mereka pekerjaan Saruman yang menebang dan membakar habis hutan di sekitar Isengard—menara Saruman. Para ent langsung marah, dan saat itulah pembalasan dendam para makhluk hutan. Bisa ndak bayangin ini kejadian beneran, menurut saya, kemarahan hutan dibumi jauh-jauh-jauh akan lebih besar dari para ent ini. Dan jujur, walau mungkin agak menakutkan, saya berharap para pohon benar-benar bisa marah. Karena manusia mengingatkan manusia kayaknya ndak mempan.
Sepertinya kurang 1 ras lagi. Yup! It’s us. Man alias manusia—berlaku untuk wanita juga kok. Di LOTR dikisahkan bahwa manusia adalah ras yang serakah—melebihi dwarf yang selalu ingin kaya—dan paling menginginkan kekuasaan. Oleh karena itulah, saat Sauron menawaran Sembilan cincin kepada Sembilan Raja penguasa Bumi Tengah, mereka mau-mau saja. Padahal akhirnya mereka hanya jadi budak kehendak Sauron, mereka menjadi Wraith, Nazgul. Mati enggan hidup tak mau—hehehe—bukan gitu, maksudnya mati engga hidup juga engga, ge’je gitu deh—kayanya antek Sauron ge’je semua ya. Di LOTR ada dua kerajaan besar manusia yang diceritakan yaitu Rohan dan Gondor. Rohan adalah negeri kuda, tak ada perang tanpa kuda, semua prajurit punya kuda, istilahnya di negeri Rohan, 1 orang pasti punay 1 kuda, jadi kalau di rumah ada 5 orang, yang di istal juga ada 5 kuda gitu. Keren banget deh! Trus di setiap rumah di Rohan itu ada tanda love di atapnya. Setelah saya perhatikan lebih lanjut, ternyata itu adalah bentuk pertemuan dua kepala kuda, jadi kaya kalau angsa ituloh, yang kepalanya ketemu, kan juga mbentuk tanda hati, nah kepala kuda ini juga. Udah gitu baju perangnya ada ukiran kudanya, helmnya juga, apaapanya kuda deh. Keren, detail banget lagi, saya mbayangin tim kreativenya, apa yah isi otaknya. Atau juga, pengarangnya deh, sumber ide tim desiner film kan dari pengarang, darimana sih pengarangnya kepikiran begituan. Kerajaan kedua, dan sepertinya yang terbesar adalah Gondor, dengan pusatnya di kota putih, Minas Tirith, The City of Kings, gitu sebutannya. Lambangnya pohon, gambar pohon di baju prajuritnya keren, liat deh.
Sepertinya penggambaran manusia oleh pengarang memang kenyataan. Mengapa ada korupsi? Mengapa ada penebangan liar? Mengapa ada perang? Semua intinya karena ingin lebih-lebih-dan lebih kan. Manusia tidak pernah puas dan selalu ingin lebih, serakah. Parahnya lagi, cara ndapetinnya itu nekad, sampe cara-cara yang dilarang agama. Duh….duh….duh… Tapi ya engga semua manusia, di sini dibuktikan, Aragorn, putra Arathorn pewaris tahta Gondor, mengembalikan kehormatan leluhurnya, dan membuktikan manusia engga buruk-buruk amat, selalu ada sisi baik dari setiap orang. Amiinnn!
Baru-baru ini saya bernostalgia dengan film-film lama. Pasti semua tahu The Lord Of The Ring, kan?—mari kita singkat LOTR—film yang dibuat berdasarkan buku karangan J.R.R Tolkien (masa ayah saya bilang “hah? Tulkiem?”—padahal beliau guru bahasa Inggris).
Menurut para pengamat sastra di negri barat sana buku inilah pelopor cerita-cerita mengenai berbagai jenis ras di bumi: elf, dwarf, hobbit, ent, man(manusia), penyihir, orc, goblin, uruk-hai dan sauron(jujur sampai sekarang saya nggak tahu Sauron tuh termasuk rasa pa. jadi penasaran pengen baca bukunya). Kenapa bisa begitu? Karena sampai sekarang tentu sudah banyak sekali buku yang mengisahkan tentang elf, dwarf, dan lain-lain itu, tetapi buku inilah yang paling tua di antara buku-buku yang lain itu. Terlebih lagi sang pengarang, Mr. Tolkien, sangat lengkap dan terperinci dalam menjelaskan tentang bahasa elf, seolah-olah itu bahasa beliau sendiri. Saya diberi tahu teman kakak saya yang sudah pernah membaca bukunya, dibelakang bukunya itu ada seperti kamus bahasa elf dan sangat lengkap. Maksudnya, tidak hanya translate dari kata-kata yang digunakan dalam bukunya, tetapi banyak dan ada penjelasannya. Sungguh semakin membuat penasaran.
Saya sebenarnya ingin minta maaf sama JK Rowling karena sekarang saya akan menomor dua kan beliau sang pengarang Harry Potter itu. Menurut saya Mr. Tolkien agak sedikit lebih keren dari pada JK Rowling. Imajinasinya akan sebuah dunia—Bumi Tengah—dan semua ras itu, kisahnya yang sangat menyentuh hati, dan penokohan setiap tokohnya yang memiliki kekhasan sendiri dan kepribadian yang khas pula yang tidak bisa dikesampingkan walau tokoh utama, Frodo—Elijah Wood, tetap menjadi sorotan utama. Film nya saja begitu keren, dalam sejarah film inilah yang paling “serakah” mengantongi piala Oscar, terutama masalah belakang panggung. Yang sudah pernah liat filmnya pasti mengerti, betapa detail dan rinci penggambaran setiap ras dan daerah tempat tinggalnya. Pakaian perang setiap bangsa pun dipikirkan matang-matang sepertinya, karena tidak semuanya sama. Penggambaran orc yang menakutkan dan menjijikan itu pun sangat mendetail, tidak sembarang memasang wajah seram yang sama—seperti film horror Indonesia—walau ada puluhan figuran, semuanya berwajah beda dalam memerankan Orc. Seolah bagian creative-nya tidak kehabisan ide, tentunya ide tersebut dan kerincian tersebut karena bukunya yang memang menerangkan dengan sangat jelas setiap bangsa. Bagaimana elf harus tampak anggun dan menawan dan selalu—seolah-olah—bercahaya. Pokoknya film ini keren buanget!!!!!
Hobbit, sebenarnya tidak begitu istimewa, apalagi dibandingkan dengan Elf. Ras ini di anggap ras rendahan. Namun, Hobbit adalah makhluk yang menyenangkan. Kerjaan mereka mirip orang-orang Indonesia, bertani, berpesta, bersenang-senang, bedanya Hobbit ini kaya nggak pernah susah gitu, seneng mulu, kalau Indonesia, seneng-senengnya yang kaya-kaya aja, miskin mah sengsara mulu kagak ada yang mikirin. Hobbit adalah makhluk kerdil berkuping lancip—kaya kuping Elf—tingginya mungkin hanya sampai seukuran perut orang dewasa. Rambutnya keriting, semuanya, tidak ada bangsa Hobbit yang tidak keriting—itu yang kulihat di film. Dan yang paling aku suka karena menurutku paling unik adalah rumah mereka. Lihatlah The Shire—desa tempat tinggal Frodo—dan kalian akan langsung jatuh cinta. Begitu hijau dan dipenuhi rumah-rumah berpintu bundar. Yup! Pintu rumah mereka bundar! Lingkaran dengan gagang pintunya di pusat lingkaran. Lucu banget kan!? Hehehe. Lorong pemisah antar ruangan di dalam rumah pun berupa setengah lingkaran. Oh iya, buat kalian yang sudah besar, hati-hati ya masuk rumah Hobbit, bisa-bisa nanti kepalanya terantuk atap rumah, atau rambutnya kesangkut lapu gantung. Hehehe. Hobbit yang paling saya suka dari Shire atau tepatnya dari cerita ini adalah Samwise Gamgee. Kalau kalian sudah tahu ceritanya, kalian pasti juga akan mengaguminya, lebih mengagumi perannya dibanding peran Frodo. Walaupun memang Frodo Baggins mengemban tugas yang jauh jauh jauh lebih berat daripada Sam.
Dwarf, sesama bangsa kerdil seperti Hobbit, tapi mungkin agak sedikit di atasnya. Dwarf berbadan lebih besar dari pada Hobbit, dan mereka semua berjanggut, bahkan wanita sekalipun—aku tidak bisa membayangkan diriku menjadi dwarf. Tidak mau!—ini berdasarkan pernyataan Gimli putra Gloin dalam cerita, tapi selama film saya tidak melihat dwarf wanita, jadi penasaran terus. Dwarf tidak berkuping lancip, karena mereka mengejek elf dengan sebutan “si kuping lancing”. Yah…sepertinya dwarf dan elf memang tidak begitu rukun. Dwarf adalah pekerja keras, mereka juga disebut pekerja tambang. Rumah mereka digua-gua, dekat tambang mereka. Satu-satunya penggambaran kerajaan dwarf di film adalah MORIA—tapi sudah hancur. Pada dwarf menggali sangat dalam. Tapi sungguh dibawah tanah itu seperti dibangun istana. Tetapi dwarf ini juga disebut-seebut agak pengecut, karena saat perang dunia bumi tengah pertama, dwarf tidak ikut berkoalisi dengan manusia dan elf untuk melawan Sauron. Mereka bersembunyi aman di bawah tanah di dalam gua. Namun, saat kegelapan kedua mengancam, akhirnya bangsa dwarf turut serta, Mr. Gimli inilah yang mewakilinya. Di akhir cerita dwarf dan elf malah jadi sahabat. Hampir lupa, senjata dwarf adalah kapak, Gimli paling membanggakan bangsanya dan kapaknya.
Elf, makhluk paling bijaksana, baik, dan abadi, satu-satunya yang abadi dari semua ras. Bila ada ras lain yang beruntung, bisa pulang ikut abadi, contohnya Bilbo Baggins—sebenernya saya ndak tahu dia ini ayah atau kakeknya Frodo—dia seorang petualang pada masa mudanya, berteman baik dengan banyak orang, termasuk para Elf, petualangannya tidak ada yang mengalahkan deh, kaya udah keliling dunia gitu. Petualangnya dia ceritakan dalam buku “There and Back Again, a tale of Hobbit” saya harap buku itu ada betulan karena saya ingin sekali membacanya! Bilbo mendapatkan kehormatan dari pada Elf untuk ikut berlayar bersama para Elf, intinya menjadi abadi atau seperti masuk surge gitu deh. Elf aslinya tidak hidup di darat. Jika masa Elf sudah lewat—seperti kata Lord Eldrond—mereka akan kembali ke laut, gitu deh intinya. Cirinya Elf, berkuping lancing, tubuhnya kaya orang normal, seukuran manusia dewasalah. Saat mereka berjalan seolah, bangsa lain yang bukan elf itu menciut, cara berjalan mereka sangat anggun—kaya slow motion gitu. Wajah mereka selalu seperti bercahaya—mungkin make up-nya blink-blink, hehe, canda—dan cara bicara mereka pun sangat anggun dan walau pun perlahan, yang mendengarnya bisa bergetar karena kagumnya. Elf juga bisa menyihir, terutama dengan menggunakan bahasa elf, tetapi hanya saat mereka berada di wilayah mereka. Contoh, saat Arwen—putri elf—dikejar oleh para Wraith—antek Sauron—saat menyelamatkan Frodo, dia menyihir sungai yang sudah berada di wilayah Elf menjadi bergelombang besar dan menenggelamkan kesembilan Wraith—tetapi mereka nggak mati karena mereka nggak bisa mati! Mereka juga ahli penyembuhan, tetapi saat itu kesaktian penyembuhan Arwen belum terlalu hebat. Gambaran tempat tinggal mereka adalah megah dan bersinar. Banyak relief gitu, saya tidak punya kata-kata yang tepat untuk mengatakannya. Oh iya, senjata utama mereka adalah panah, mereka semua ahli pemanah, pedang mereka juga beda, kaya tombak gitu. Elf yang sudah sakti bisa melihat masa depan, sebenarnya yang muda juga, tapi itu baru bakat, masih kudu di asah. Aku sempat heran, kenapa penggemar Super Junior namanya Elf? Gak trima ajah, jauh banget gitu sama Elf. Tapi gapapa deh, aku kan juga Elf-Suju hehehe. Tambahan lagi, tokoh Elf banyak yang mendominasi di film, tetapi yang paling sering kelihatan adalah Legolas yang diperankan Orlando Bloom—ada cewek yang teriak-teriak ndak pas baca ini?—yang ganteng itu (katanya). Orlando Bloom juga berperan di trilogi lagi (dadakan) The Pirates of Carribean.
Ras Penyihir, saya ndak tahu ini bener atau ndak. Sepertinya memang ada, karena Gandalf—Ian McKellen—terlihat manusia tetapi bukan elf dan dia bisa menyihir tanpa bahasa elf dan juga bisa mendapatkan penglihatan-penglihatan. Jadi menurut saya Gandalf masih sekaum sama Harry Potter (selanjutnya memang iyah, Ian McKellen memerankan Prof. Dumbledor dari HP 5, karena actor sebelumnya meninggal dunia). Cirri-ciri mereka sama deh kaya manusia. Ada tingkatan-tingkatan dalam penyihir di LOTR, Gandalf tadinya adalah The Grey (abu-abu) tingkatannya masih di bawah Saruman si Penyihir Putih yang tadinya baik kemudian menjadi anteknya Sauron juga (entah apa mungkin karena nama depan mereka sama-sama ‘S’ hehehe). Sehingga saat keduanya duel, Gandalf kalah. Namun kemudian Gandalf bertransformasi menjadi penyihir putih, setelah berhasil mengalahkan The Shadow—sejenis iblis. Dan semenjak itu wajahnya jadi agak bersinar kaya elf gitu, dan sekarang dia jelas labih sakti dari pada Saruman. Penyihir di LOTR menyihir dengan tongkat berjalan, bukan tongkat yang kecil kaya di HP, semua penyihir di LOTR—cuma ada dua ding—adalah orang tua, saya juag ndak ngerti kenapa haru s orang tua. Oiah, tanpa tongkatnya, penyihir tidak bisa menyihir, jadi kalau mau mereka kalah, gampang, colong aja tongkatnya.
Ras orc, goblin, dan uruk-hai. Serba gajelas. Muka gak jelas, ngomong nggak jelas, senjata nggak jelas(bentuknya aneh-aneh), tempat tinggal nggak jelas juga. Berdasarkan film, orc, goblin, dan uruk-hai bisa di dapat dari tanah. Karena saat Saruman mengumpulkan pasukannya, dia menggali sangat dalam (nggak tahu pake bor atau pake sihir), dan di dalam galian ini pun masih di gali lagi untuk mencari ‘kehidupan’. Orc terbenam di tanah dan mereka hidup, terlindungi dengan selaput lengket begitu. Menjijikan deh saat pertama kali mereka ditemukan di tanah. Makanan mereka daging, mereka benci roti, daging manusia kesukaan mereka—takut!!!. Uruk-hai, menurut Saruman, dulunya adalah Elf, tetapi mereka terkutuk lalu dipeluk kegelapan dan jadilah makhluk menyeramkan yang lebih kuat dari orc dan bisa berpatroli di siang hari ya itu tadi, Uruk-Hai. Nah, saya bingung, Gollum itu masuk apa ya? Dia juga termasuk makhluk nggak jelas, walau dulunya dia itu Hobbit, tetapi karena gila oleh cincin itu, bertransformasi jadi makhluk aneh yang kaya punya 2kepribadian.
Ent, ini kaya yang di Narnia, pohon yang hidup. Tetapi tidak semua pohon di LOTR hidup, hanya ent saja atau juga bisa disebut Treeberd, penggembala pohon. Ada bahasa ent juga loh yang laaammaaaa buangettt kalau mau ngomong pake bahasa ent. Udah gitu ent kalau lagi rapat goyang-goyang gitu kaya pohon kena angin, tapi jadi lucu. Ent aja ngomong pake bahasa manusia agak lelet. Gambaran ent ini juga kaya orang tua, pohon yang punya mata, telinga, hidung, mulut kaya manusia tetapi ada janggut-janggutnya gitu deh. Ent tadi nya engga ikut berperang karena merasa mereka tidak dirugikan jadi mereka diam saja. Padahal mereka salah. Untuk ada Pippin dan Mery, teman Frodo dan Sam, yang menyadarkan mereka, dan memperlihatkan mereka pekerjaan Saruman yang menebang dan membakar habis hutan di sekitar Isengard—menara Saruman. Para ent langsung marah, dan saat itulah pembalasan dendam para makhluk hutan. Bisa ndak bayangin ini kejadian beneran, menurut saya, kemarahan hutan dibumi jauh-jauh-jauh akan lebih besar dari para ent ini. Dan jujur, walau mungkin agak menakutkan, saya berharap para pohon benar-benar bisa marah. Karena manusia mengingatkan manusia kayaknya ndak mempan.
Sepertinya kurang 1 ras lagi. Yup! It’s us. Man alias manusia—berlaku untuk wanita juga kok. Di LOTR dikisahkan bahwa manusia adalah ras yang serakah—melebihi dwarf yang selalu ingin kaya—dan paling menginginkan kekuasaan. Oleh karena itulah, saat Sauron menawaran Sembilan cincin kepada Sembilan Raja penguasa Bumi Tengah, mereka mau-mau saja. Padahal akhirnya mereka hanya jadi budak kehendak Sauron, mereka menjadi Wraith, Nazgul. Mati enggan hidup tak mau—hehehe—bukan gitu, maksudnya mati engga hidup juga engga, ge’je gitu deh—kayanya antek Sauron ge’je semua ya. Di LOTR ada dua kerajaan besar manusia yang diceritakan yaitu Rohan dan Gondor. Rohan adalah negeri kuda, tak ada perang tanpa kuda, semua prajurit punya kuda, istilahnya di negeri Rohan, 1 orang pasti punay 1 kuda, jadi kalau di rumah ada 5 orang, yang di istal juga ada 5 kuda gitu. Keren banget deh! Trus di setiap rumah di Rohan itu ada tanda love di atapnya. Setelah saya perhatikan lebih lanjut, ternyata itu adalah bentuk pertemuan dua kepala kuda, jadi kaya kalau angsa ituloh, yang kepalanya ketemu, kan juga mbentuk tanda hati, nah kepala kuda ini juga. Udah gitu baju perangnya ada ukiran kudanya, helmnya juga, apaapanya kuda deh. Keren, detail banget lagi, saya mbayangin tim kreativenya, apa yah isi otaknya. Atau juga, pengarangnya deh, sumber ide tim desiner film kan dari pengarang, darimana sih pengarangnya kepikiran begituan. Kerajaan kedua, dan sepertinya yang terbesar adalah Gondor, dengan pusatnya di kota putih, Minas Tirith, The City of Kings, gitu sebutannya. Lambangnya pohon, gambar pohon di baju prajuritnya keren, liat deh.
Sepertinya penggambaran manusia oleh pengarang memang kenyataan. Mengapa ada korupsi? Mengapa ada penebangan liar? Mengapa ada perang? Semua intinya karena ingin lebih-lebih-dan lebih kan. Manusia tidak pernah puas dan selalu ingin lebih, serakah. Parahnya lagi, cara ndapetinnya itu nekad, sampe cara-cara yang dilarang agama. Duh….duh….duh… Tapi ya engga semua manusia, di sini dibuktikan, Aragorn, putra Arathorn pewaris tahta Gondor, mengembalikan kehormatan leluhurnya, dan membuktikan manusia engga buruk-buruk amat, selalu ada sisi baik dari setiap orang. Amiinnn!
![]() |
| Ini Uruk-hai. serem nda? |
![]() |
| ini Aragorn...berkarisma tah... |
![]() |
| ini cover dvd LOTR the fellowship of the ring |
![]() |
| ini nazgul....gak bisa mati loh kecuali cewek yang mbunuh...hehehe . hantu pokoknya cuma selain manusia hidup yang bisa mbunuh neh makhluk atu |
![]() |
| yang tengah itu Legolas, Elf. perhatikan, lebih 'cemerlang' daripada yg lain kan. kaya ada efek cahaya gitu... |
![]() |
| ini dwarf...gendut dan pendek..hmm...mirip siapa yah..?? |
![]() |
| gollum...evil creature...hehehe |








0 comments:
Post a Comment